Teori
Keynes
Pada mulanya, selama lebih dari 100
tahun setelah revolusi industri yang dimulai di Inggris, negara-negara barat
mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Keberhasilan ini merupakan
keberhasilan penerapan teori klasik yang mengandalkan sistem laissez-faire.
Namun, pada tahun 1930-an, negara-negara tersebut mengalami depresi dan
pengangguran yang hebat dan berkepanjangan. Dalam keadaan demikian kaum Klasik
dan Neo-Klasik tidak berdaya untuk memberi pemecahan permasalahan yang
dihadapai dalam perekonomian masyarakat Kaum sosialis di negara tersebut
mengatakan bahwa penyebab depresi itu adalah kesalahan pada sistem perekonomian
itu sendiri, yaitu sistem laissez faire atau liberalisme atau kapitalisme.
Kaum sosialis berpandangan, selama suatu
Negara mempercayakan pengelolaan perekonomian pada para produsen swasta
yang per definisi hanya bertujuan mengejar keuntungan sebesar-besarnya
untuk mereka pribadi, maka depresi, pengangguran, dan juga inflasi akan
tetap menjadi penyakit perekonomian yang menghantui dari waktu ke waktu.
Oleh karenanya kaum sosialis mengusulkan perombakan system perekonomian
menjadi sistem sosialis, yaitu sistem di mana faktor-faktor produksi tidak bisa
dimiliki oleh pengusaha swasta, tetapi hanya dimiliki oleh masyarakat
(negara). Semua kegiatan produksi
dikuasai negara, yang secara teoritis, akan mengutamakan kepentingan masyarakat
di atas kepentingan pribadi/golongan. Motif mengejar keuntungan tidak lagi sebagai
motif utama seperti pada sistem kapitalis. “Obat” semacam itu ternyata dianggap
terlalu radikal, sehingga orang-orang di negara-negara Barat yang telah lama
terbiasa dengan kebebasan berusaha tidak dapat menerima begitu saja.
Mengubah sistem seperti itu berarti
mengubah kebiasaan dan cara hidup yang sudah mendarah daging pada mereka.
Mereka menghendaki obat yang tidak terlalu pahit yang dapat
menolong memecahlan masalah perekonomian mereka.
Dalam situasi demikian John Maynard
Keynes (1883-1946) muncul menawarkan suatu pemecahan yang merupakan “jalan
tengah”. Keynes menawarkan untuk meninggalkan pemikiran kaum Klasik murni. Keynes berpendapat, untuk
mengatasi masalah krisis ekonomi tersebut, Pemerintah harus melakukan lebih
banyak campur tangan secara aktif dalam mengendalikan perekonomian nasional.
Kegiatan produksi dan pemilikan faktor-faktor produksi masih dapat dipercayakan
kepada swasta, tetapi Pemerintah wajib melakukan kebijakan-kebijakan untuk
mempengaruhi perekonomian. Misalnya, dalam masa depresi Pemerintah harus
bersedia melakukan kegiatan-kegiatan yang langsung dapat menyerap tenaga kerja
yang tidak dapat bekerja pada swasta, walaupun hal ini dapat menyebabkan
defisit dalam anggaran belanja negara. Dalam hal ini Keynes tidak percaya pada
sistem liberalisme yang mengoreksi diri sendiri, untuk kembali pada posisi full
employment secara otomatis. Full employment hanya bisa dicapai dengan
tindakan-tindakan tertencana, bukan datang dengan sendirinya. Inilah inti dari
ideologi “keynesianisme”. Pemikiran-pemikiran Keynes tersebut
dituangkan dalam bukunya yang berjudul “The General Theory of Employment,
Interest, and Money.
Inti teori
Keynes pada pendapatnya terhadap ketiga pasar ini (plus pasar luar negeri pada
perekonomian terbuka) adalah masing-masing pasar saling kait mengait . Mengetahui
proses keseimbangan di suatu pasar atau di masing-masing pasar tidak cukup
mengetahui proses makro secara lengkap. Keynes menekankan perlunya melihat
proses sebagai proses keseimbangan umum (general equilibrium), yaitu
proses penyesuaian di semua pasar untuk menuju ke arah posisi keseimbangannya
secara bersama-sama. Setiap perubahan situasi makro harus dikaji dalam kerangka
proses keseimbangan umum tersebut.
PASAR
UANG
Pasar Uang adalah pertemuan antara permintaan akan uang (MD)
dengan penawaran uang (MS). MD adalah kebutuhan masyarakat akan uang tunai
untuk menunjang kegiatan ekonominya. MS adalah jumlah uang yang disediakan oleh
pemerintah dan bank-bank, yaitu seluruh uang Kartal dan uang Giral yang
beredar.
Sumber permintaan uang, 3 macam kebutuhan akan uang:
ü Kebutuhan transaksi,
ü Kebutuhan berjaga-jaga,
ü Kebutuhan berspekulasi,
Permintaan uang untuk transaksi ditentukan oleh:
q Volume output yang ditransaksikan (yaitu GDP riil), dan
q Tingkat harga umum.
Keynes tidak berbeda dengan Klasik. Permintaan uang untuk
berjaga-jaga relatif kecil dan dalam analisis bisa diabaikan.
n Permintaan untuk spekulasi (yang membedakan teori keynes dengan
teori kuantitas) adalah permintaan akan uang tunai untuk tujuan memperoleh
keuntungan. Caranya adalah dengan “berspekulasi” dalam pasar obligasi (surat
berharga). Apabila harga obligasi diharapkan untuk naik untuk naik di masa
mendatang, maka orang akan membeli obligasi dengan uang tunainya hari ini. Ini
berarti uang tunai yang saat ini untuk berspekulasi akan berkurang. Sebaliknya,
apabila harga obligasi diharapkan turun, maka permintaannya akan uang tunai
saat ini akan bertambah (obligasi dijual).
n Hubungan antara harga obligasi dan tingkat bunga yang berlaku
adalah berkebalikan. Harga obligasi naik sama saja artinya dengan tingkat bunga
turun. Sebaliknya, harga obligasi turun berarti tingkat bunga naik.
n Bila harga obligasi diharapkan naik, ini berarti bahwa harga
obligasi saat ini dianggap terlalu rendah. Bila harga obligasi diharapkan
turun, ini berarti bahwa harga obligasi saat ini dirasa terlalu tinggi.
n Keynes mengatakan bahwa permintaan akan uang untuk spekulasi saat
ini tinggi apabila tingkat bunga saat ini (dirasa) rendah dan permintaan untuk
spekulasi saat ini rendah apabila tingkat bunga untuk spekulasi mempunyai hubungan yang berkebalikan dengan tingkat bunga (saat
ini). Ini adalah inti teori moneter Keynes.
n Tingkat bunga merupakan penghubung utama antara pasar uang dengan
pasar barang, sebab tingkat bunga menentukan berapa pengeluaran investasi yang
direncanakan oleh investor dan selanjutnya pengeluaran investasi ini menentukan
tingkat permintaan agregat.
n Penghubung lain antara kedua pasar ini adalah tingkat harga (P) dan
output (Q), karena variabel ini mempengaruhi Liquidity Preference (MD).
Jadi hubungan antara kedua pasar tersebut adalah timbal balik.
1.
Teori
Permintaan Uang Klasik
Merupakan teori yang menitikberatkan uang hanya sebagai alat
transaksi. Teori klasik dikemukakan oleh Irving Fisher (M.V=P.T)
dimana:|
M = jumlah uang yang beredar
V = Perputaran uang dari satu tangan ke tangan lain dalam satu periode (Velocity of
Money)
P = Harga barang
T = jumlah transaksi
dimana:|
M = jumlah uang yang beredar
V = Perputaran uang dari satu tangan ke tangan lain dalam satu periode (Velocity of
Money)
P = Harga barang
T = jumlah transaksi
Menurut David Hume jumlah uang yang beredar berkorelasi positif
terhadap perubahan tingkat harga.
Teori lainnya yaitu Teori Cash Balance yang dikemukakan oleh A.
Marshall dai Universitas Cambridge. Pandangan A. Marshall sama dengan
teori klassik lainnya karena uang akan cepat likuid. Menurut Cambridge
permintaan uang akan dipengaruhi perilaku masyarakat dalam memanfaatkan
beberapa jenis kekayaan dan salah satunya uang.
1.
Karakteristik
Ekonomi Klasik:
2.
Landasan
teorinya berdasarkan hukum “Say” yang menyatakan penawaran akan menciptakan
permintaan.
3.
Perekonomian
akan berada di bawah full employment
4.
Harga
umum bersifat fleksibel
5.
Setiap
aktivitas produksi sekaligus akan berdampak pada peningkatan output dan
peningkatan penghasilan pemilik faktor-faktor dengan nilai yang sama
6.
Semua
penghasilan dibelanjakan di pasar barang
7.
Tidak
perlu intervensi pemerintah
8.
Informasi
pasar sempurna dan alokasi sumber ekonomi berjalan secara efisien dan produktif
Karakteristik Klassik di Pasar Uang:
1.
Permintaan
hanya untuk transaksi
2.
Penawaran
uang ditentukan oleh pemerintah
3.
Pasar
selalu dalam keadaan keseimbangan, dimana permintaan sama dengan penawaran uang
yaitu sejumlah tertentu dalam pendapatan nasional
1.
Teori
Permintaan Uang Keynes
Meskipun bisa dikatakan bahwa teori uang Keynes adalah teori yang
bersumber dari teori Cambridge, tetapi Keynes mengemukakan sesuatu yang berbeda
dengan teori moneter tradisi klasik. Pada hakekatnya perbedaan ini terletak
pada penekanan pada fungsi uang yang lain, yaitu sebagai store of value dan
bukan hanya sebagai means of exchange. Teori ini kemudian dikenal dengan nama
teori Liquidity Preference.
A.
Motif
Transaksi dan Berjaga-jaga
Orang memegang uang guna memenuhi dan melancarkan transaksinya, dan
permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini sangat dipengaruhi oleh
tingkat pendapatan nasional dan tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat pendapatan
semakin besar volume transaksi dan semakin besar pula kebutuhan uang untuk
tujuan transaksi. Permintaan uang untuk tujuan transaksi ini pun tidak
merupakan suatu proporsi yang selalu konstan, tetapi dipengaruhi pula oleh
tinggi rendahnya tingkat bunga. Hanya saja faktor tingkat bunga untuk
permintaan transaksi untuk uang ini tidak ditekankan oleh Keynes, akan tetapi
tingkat bunga ditekankan pada permintaan uang untuk tujuan spekulasi.
Motif berjaga-jaga (precautionary motive), orang akan mendapat
manfaat dari memegang uang untuk menghadapi keadaan-keadaan yang tidak terduga,
karena sifat uang yang liquid, yaitu mudah ditukarkan dengan barang-barang
lain. Menurut Keynes permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga ini dipengaruhi
oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang mempengaruhi permintaan uang
untuk transaksi, yaitu terutama dipengaruhi pula oleh tingkat penghasilan orang
tersebut, dan mungkin dipengaruhi pula oleh tingkat bunga (meskipun tidak kuat
pengaruhnya).
B.
Motif
Spekulasi
Sesuai dengan namanya , motif dari memegang uang ini adalah
terutama untuk tujuan memperoleh keuntungan yang bisa diperoleh dari seandainya
si pemegang uang tersebut meramal apa yang akan terjadi dengan benar. Pada
teori Cambridge faktor ketidaktentuan masa depan (uncertainly) dan faktor
harapan (expectations) dari pemilik kekayaan bisa mempengaruhi permintaan akan
uang dari pemilik kekayaan tersebut. Namun sayangnya teori ini tidak pernah
membakukan faktor-faktor ini ke dalam perumusan teori moneter mereka. (Kita
lihat bahwa bentuk permintaan dari teori Cambridge tidak berbeda dengan Fisher,
dan faktor-faktor ini hanya masuk analisa secara kualitatif). Perumusan
permintaan uang untuk motif spekulasi dari Keynes merupakan langkah
“formalisasi” dari faktor-faktor ini ke dalam teori moneter.
Keynes tidak membicarakan faktor “uncertainly” dan “expectations”
hanya secara umum, seperti teori Cambridge. Tetapi ia membatasi “uncertainly”
dan “expectations” mengenai satu variable yaitu tingkat bunga. Pada garis besarnya
teori Keynes membatasi pada keadaan dimana pemilik kekayaan bisa memilih
memegang kekayaannya dalam bentuk uang tunai atau obligasi (bond). Uang tunai
dianggap tidak memberikan penghasilan sedangkan obligasi dianggap memberikan
berupa sejumlah uang tertentu setiap periode. Dalam teori Keynes dibicarakan
khusus obligasi yang memberikan suatu penghasilan berupa sejumlah uang tertentu
setiap periode selama waktu yang tak terbatas (perpetuity).
Secara umum bisa ditulis dengan persamaan sebagai berikut :
K = RP………………………………………(1)
Dimana K adalah hasil per tahun yang diterima, R adalah tingkat
bunga, dan P adalah harga pasar atau nilai sekarang dalam obligasi “perpetuity”
tersebut. Persamaan tersebut bisa juga ditulis sebagai berikut :
P = K/R………………………………………..(2)
yang menunjukkan bahwa (karena K adalah konstan) harga pasar
obligasi (P) berbanding terbalik dengan tingkat bunga R bila tingkat bunga
turun, maka berarti harga pasar obligasi naik, dan sebaliknya bila tingkat
bunga naik maka harga pasar obligasi turun, atau dengan kata lain semakin
tinggi tingkat suku bunga semakin rendah permintaan uang tunai oleh seseorang
atau masyarakat. Karena, semakin tinggi tingkat suku bunga, maka semakin besar
ongkos memegang uang tunai sehingga seseorang atau masyarakat lebih baik
membeli obligasi. Sebaliknya apabila tingkat suku bunga semakin rendah maka
semakin rendah pula ongkos memegang uang tunai dan semakin besar seseorang atau
masyarakat untuk menyimpan uang tunai.
Permintaan total akan uang :
Bentuk yang sederhana dari fungsi per mintaan (total) akan uang dari
teori Keynes adalah:
Md/P = [ k Y + Ø (R, W) ]…………………………….(1)
Md/P adalah permintaan uang total dalam arti riil, suku pertama
dalam kurung, yaitu k Y adalah permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga,
yang dinyatakan sebagai suatu proporsi (k) dari pendapatan nasional riil. Ø (R,
W) adalah permintaan akan uang untuk motif spekulasi yang dinyatakan sebagai
fungsi dari tingkat bunga yang berlaku (R) dan nilai asset (kekayaan atau
wealth) yang ada di masyarakat (W). Variable W ini dimasukkan karena permintaan
uang untuk motif spekulasi dinyatakan sebagai bagian dari W yang dipegang dalam
bentuk uang tunai. Persamaan (1) tersebut bisa pula dinyatakan dalam bentuk
permintaan akan uang dalam satuan moneter sebagai berikut :
Md = [ k Y + Ø (R, W) ] P…………………………..(2)
dalam analisa jangka pendek W biasanya dianggap konstan sehingga
fungsi (2) menjadi :
Md = [ k Y + Ø (R) ] P………………………………(3)
dimana Ø (R) = Ø (R,W), dalam posisi equilibrium, supply uang (Ms),
yang dianggap juga oleh Keynes sebagai variable yang ditentukan oleh
pemerintah, sama dengan Md. Sehingga :
Ms = [ k Y + Ø (R) ] P………………………………(4)
Teori permintaan uang Keynes mempunyai implikasi bahwa fungsi
permintaan akan uang (Liquidity Preference) adalah fungsi yang tidak stabil,
dalam arti bahwa fungsi ini bisa bergeser dari waktu ke waktu. Hal ini karena
Keynes menekankan faktor uncertainly dan expectation dalam menentukan posisi
permintaan uang untuk tujuan spekulasi (Boediono, 2005 : 27).